20 Provider Anggota AELI Jawa Tengah Ikuti Sesi Perdana Penguatan Kapasitas Bisnis
Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Experiential Learning Indonesia (DPP AELI) sukses menyelenggarakan sharing session perdana bertema pengembangan bisnis provider EL bersama 20 lembaga anggota AELI dari Jawa Tengah. Kegiatan ini merupakan langkah nyata dari program Bidang Pengembangan Provider DPP AELI masa bakti 2025 – 2028 yang berfokus pada penguatan kapasitas kelembagaan anggota di seluruh Indonesia.
Sesi ini dipandu langsung oleh Ketua Umum DPP AELI, Mas Gih, dan berlangsung sangat interaktif dengan diskusi yang mengalir organik dari para peserta.
Menantang Diri Melalui Cermin Tukar Company Profile
Sesi dibuka dengan aktivitas yang langsung menantang naluri bisnis peserta: menukar company profile (compro) lembaga masing-masing dengan peserta lain. Peserta diminta membacanya selama beberapa menit, lalu menjawab tiga pertanyaan dasar: lembaga ini bergerak di bidang apa, apa produk unggulannya, dan apakah sebagai klien mereka tertarik untuk melanjutkan diskusi.
Reaksi awal peserta saat menilai compro satu sama lain cenderung positif. Namun, suasana berubah saat Mas Gih mengajukan pertanyaan pertama secara langsung. Sebagian besar peserta ternyata tidak bisa menjawab dengan jelas apa bidang usaha dari lembaga yang compro-nya mereka pegang karena informasi tersebut tidak tergambar dengan tegas di dalamnya.
“Ini bukan soal desain compro yang bagus atau tidak. Tapi apakah compro itu bisa menjawab pertanyaan paling dasar yang ada di kepala klien baru,” ungkap Mas Gih dalam sesi tersebut.
Memahami DNA di Balik Empat Kategori Bisnis
Salah satu insight paling berdampak dalam sesi ini adalah pembedahan empat kategori bidang usaha provider EL: Outbound & Fun Games, Outing/Gathering & Team Building, Outdoor/Adventure & Experience-Based Training, serta Study Tour & Field Trip.
Banyak peserta baru menyadari bahwa keempat kategori ini memiliki DNA kompetensi yang berbeda, mulai dari jenis program, profil klien yang dilayani, hingga cara membangun produk dan menyusun proposal yang efektif. Kesadaran mengenai positioning ini menjadi fondasi penting untuk menentukan arah pengembangan lembaga ke depannya.
Transformasi: Dari Daftar Kegiatan Menjadi Produk Nyata
Diskusi mengenai produk menjadi momen yang paling intens. Selama ini, hampir semua peserta mengakui bahwa mereka belum memiliki produk yang terdefinisi dengan benar. Yang tersedia hanyalah daftar kegiatan umum seperti “outbound” atau “gathering”, tanpa nama produk yang berkarakter dan tanpa deskripsi jelas mengenai solusi yang ditawarkan bagi klien.
Mas Gih menegaskan bahwa kemampuan mendeskripsikan produk dengan identitas yang kuat adalah penentu kinerja bisnis. Klien tidak sekadar membeli metode EL, melainkan membeli solusi atas kebutuhan spesifik mereka.
Menyusun Proposal dari Sudut Pandang Klien
Pada bagian akhir, peserta diajak merefleksikan cara mereka menyusun penawaran. Muncul kesadaran baru bahwa sebagian besar proposal yang dibuat selama ini terlalu banyak membanggakan kehebatan tim fasilitator dan metode EL, namun kurang menyentuh konteks serta kebutuhan nyata klien. Proposal yang efektif seharusnya dimulai dari menggambarkan situasi klien dan menawarkan solusi yang dirancang khusus untuk mereka.
Langkah Lanjut: EL Business MasterClass
Menutup sesi yang penuh pencerahan ini, Mas Gih menekankan bahwa pemahaman hari ini baru menyentuh permukaan. Untuk membangun fondasi bisnis yang benar-benar kokoh dan terstruktur, DPP AELI telah menyiapkan program lanjutan yaitu EL Business MasterClass.
Ketua DPD AELI Jawa Tengah, Napoleon Wauran, langsung merespons dengan mengajak seluruh peserta untuk mengambil langkah nyata. Hasilnya, seluruh peserta menyatakan kesiapan mereka untuk berinvestasi lebih dan mengikuti program MasterClass tersebut.
DPP AELI berencana menyelenggarakan roadshow serupa di berbagai wilayah lainnya sebagai agenda rutin pengembangan provider sepanjang masa bakti 2025 – 2028.
Sekretariat DPP AELI 2025–2028
Bersatu, Berjaya, Berdampak