Jakarta, 21 Mei 2026 – AELI hadir dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata di Gedung Sapta Pesona, Jakarta. Forum dua hari ini mengumpulkan para pemangku kepentingan pariwisata nasional dari kementerian, pemerintah daerah, akademisi, hingga asosiasi industri untuk menyepakati arah strategis pariwisata Indonesia dalam kerangka RPJMN 2025 – 2029.
Banyak hal yang dibahas. Tapi ada satu benang merah yang terus muncul sepanjang forum: pariwisata bukan sekadar perjalanan. Pariwisata adalah pengalaman yang mengubah.
UU Kepariwisataan Baru Bicara Bahasa EL
Tahun lalu, Indonesia mengesahkan UU No. 18 Tahun 2025 tentang Kepariwisataan. Salah satu perubahan yang paling mencolok ada di definisi dasarnya.
Di UU lama, wisata didefinisikan sebagai perjalanan untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata. Di UU yang baru, definisi itu bergeser secara signifikan: wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang ke tempat tertentu di luar lingkungan asalnya, dalam jangka waktu sementara, untuk meningkatkan kualitas hidup.
Bagi kita di komunitas Experiential Learning, kalimat itu bukan sekadar definisi hukum. Itu adalah pengakuan.
Selama ini, EL bekerja dengan prinsip bahwa pengalaman yang dirancang dengan baik bisa menjadi medium pembelajaran yang paling kuat. Bahwa manusia berubah bukan hanya melalui informasi, tapi melalui pengalaman yang bermakna. Dan kini, undang-undang kita menyebut bahwa tujuan wisata adalah meningkatkan kualitas hidup, bukan sekadar bersenang-senang.
UU yang sama juga mendefinisikan Ekosistem Kepariwisataan sebagai sistem yang bertujuan menciptakan pengalaman dan nilai manfaat Kepariwisataan. Dua kata kunci itu pengalaman dan nilai manfaat adalah jantung dari cara kerja EL.
Siapa yang Paling Siap Mewujudkan Ini?
Pertanyaannya kemudian menjadi sederhana: jika tujuan pariwisata berkualitas adalah menciptakan pengalaman yang meningkatkan kualitas hidup wisatawan, siapa yang paling siap untuk mewujudkannya?
Kita percaya jawabannya ada pada para pegiat Experiential Learning.
Bukan karena kita lebih baik dari pelaku pariwisata lain. Tapi karena merancang pengalaman yang bermakna pengalaman yang tidak hanya dinikmati tapi juga meninggalkan dampak nyata pada pesertanya adalah kompetensi inti yang selama ini kita bangun dan kembangkan. Kita tahu bagaimana mengubah sebuah destinasi bukan hanya menjadi latar belakang foto, tapi menjadi ruang pembelajaran yang hidup.
Dalam konteks inilah program Destination-Based Exploration (DBE) yang dikembangkan oleh provider-provider anggota AELI menjadi relevan. DBE adalah pendekatan perancangan program yang menjadikan destinasi sebagai medium bukan sekadar lokasi. Sebuah kampung nelayan bisa menjadi ruang belajar tentang ketahanan dan adaptasi. Sebuah hutan bisa menjadi laboratorium tentang kepemimpinan dan kolaborasi. Sebuah kota tua bisa menjadi perjalanan tentang identitas dan warisan.
Inilah yang kita maksud dengan pengalaman wisata yang meningkatkan kualitas hidup.
INDEX: Menggerakkan Potensi yang Sudah Ada
AELI memiliki anggota provider EL yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Banyak dari mereka sudah mengembangkan program-program berbasis eksplorasi destinasi outing, study tour, field trip, hingga program pengembangan kapasitas yang menggunakan kekayaan alam dan budaya lokal sebagai bahan utamanya.
Selama ini potensi ini tersebar, belum terhubung, dan belum terlihat oleh pasar yang lebih luas.
Maka AELI sedang membangun INDEX (Indonesia Digital Exploration) sebuah platform yang mengumpulkan program-program DBE dari seluruh provider anggota AELI dalam satu direktori yang dapat diakses publik. INDEX bukan sekadar marketplace. INDEX adalah upaya AELI untuk membuat kontribusi pegiat EL pada ekosistem pariwisata nasional menjadi nyata dan terukur.
Melalui INDEX, siapapun yang mencari program outing berkualitas, study tour yang punya dampak pembelajaran, atau field trip yang lebih dari sekadar kunjungan bisa menemukan pilihan yang dirancang oleh para profesional yang memang terlatih untuk itu.
Momentum yang Tidak Boleh Dilewatkan
Rakornas ini mengingatkan kita bahwa arah kebijakan pariwisata nasional sedang bergerak ke tempat yang sama dengan arah yang selama ini kita perjuangkan. Pariwisata berkualitas. Pengalaman yang bermakna. Nilai manfaat bagi wisatawan.
Ini bukan kebetulan, ini adalah momentum.
Dan AELI ingin hadir bukan hanya sebagai penonton perubahan ini, tapi sebagai salah satu pelaku yang ikut membentuknya.