Untuk Pertama Kalinya: AELI Perkenalkan Program DBE dan Luncurkan INDEX di Penutupan IELC 2026

Setelah tiga sesi keynote dan empat sesi pleno yang masing-masing membawa perspektif berbeda, kebijakan pemerintah, karakter kebangsaan, filosofi human capital, kerangka global pariwisata, transformasi pendidikan, pembuktian dampak korporasi, hingga studi kasus provider Experiential Learning, Indonesia Experiential Learning Conference (IELC) 2026 sampai pada momen yang telah dinanti sepanjang hari: pidato penutup dari Ketua Umum DPP Asosiasi Experiential Learning Indonesia (AELI), Gigih Gesang.

Berbeda dari sesi-sesi sebelumnya yang masing-masing berdiri sebagai presentasi mandiri, pidato penutup ini memiliki tugas yang berbeda. Ia harus merangkai seluruh benang merah yang telah terdengar sepanjang hari, dan menjawab satu pertanyaan besar yang sudah ditanam sejak pagi: bagaimana destinasi bisa menjadi ruang yang sengaja dirancang untuk membangun kapasitas manusia Indonesia?

Menapak Ulang Perjalanan Satu Hari

Gigih membuka pidatonya dengan mengajak seluruh peserta menapak ulang perjalanan hari itu, satu demi satu. Dari sambutan Menteri Pariwisata yang menegaskan pariwisata sebagai inkubator kapasitas bangsa, hingga Wakil Kepala BPIP yang membawa perspektif Pancasila tentang bagaimana destinasi bisa menjadi ruang internalisasi karakter kebangsaan. Dari Managing Director Human Capital Danantara Indonesia yang mengingatkan bahwa destinasi tanpa pengalaman hanyalah lokasi, hingga sesi pleno pertama yang menegaskan dasar hukum baru bagi transformasi ini melalui UU No. 18 Tahun 2025.

Perjalanan berlanjut ke paparan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang menunjukkan bagaimana study tour bermakna sudah mulai diterapkan di dunia pendidikan, hingga Indonesia Financial Group yang membuktikan bahwa human capital tumbuh melampaui ruang kelas melalui program berbasis komunitas yang hasilnya bisa diukur. Dan akhirnya, provider Experiential Learning anggota AELI sendiri yang menunjukkan bukti paling konkret: bagaimana destinasi-destinasi super prioritas Indonesia sudah menjadi tempat di mana pembelajaran berbasis pengalaman benar-benar terjadi hari itu, bukan sekadar wacana atau rencana masa depan.

“Jika kita tarik mundur dan melihat semuanya sebagai satu kesatuan, ada satu pertanyaan yang saya ajak Bapak dan Ibu bawa sejak pagi,” ujar Gigih. “Bagaimana destinasi bisa menjadi ruang yang sengaja dirancang untuk membangun kapasitas manusia Indonesia? Hari ini, dari tujuh sudut pandang yang berbeda, kita mendapatkan jawaban yang sama. Destinasi memang bisa menjadi ruang itu. Dan ia sudah terjadi.”

Sebuah Kerangka yang Akhirnya Mendapatkan Nama

Inilah titik paling dinanti dari pidato ini. Menurut Gigih, apa yang baru saja didengar sepanjang hari bukan sekumpulan pemikiran yang kebetulan beririsan. Ia adalah satu kerangka yang koheren, dan kerangka itu, untuk pertama kalinya, diperkenalkan secara resmi kepada publik lintas sektor sebagai Program Destination-Based Exploration, atau Program DBE.

Program DBE didefinisikan sebagai pendekatan yang menjadikan karakter unik sebuah destinasi, mulai dari alam, budaya, sejarah, hingga kearifan lokalnya, sebagai sumber pengalaman belajar yang dirancang secara sengaja. Bukan template generik yang bisa dipindah-pindah ke sembarang tempat, melainkan pengalaman yang hanya bisa lahir dari satu tempat itu.

Yang menarik, Gigih tidak mengklaim Program DBE sebagai penemuan baru yang muncul dari ruang kosong. “Program DBE bukan sesuatu yang baru kita temukan kemarin sore,” tegasnya dengan jujur. “Praktiknya sudah lama hidup di Indonesia, jauh sebelum nama ini ada. Bertahun-tahun, kita mengenalnya sebagai Outing, sebagai Field Trip, sebagai Study Tour.” AELI sendiri, diingatkannya, sudah berusia hampir dua dekade sejak berdiri pada 2007, menghimpun praktik-praktik semacam ini yang berkembang sejak dekade 1990-an di Indonesia.

Yang baru, dan yang ingin ditegaskan hari itu, bukan praktiknya, melainkan keberanian untuk memberinya nama dan kerangka desain yang sistematis. Selama ini, ditunjukkan Gigih, istilah-istilah serupa berserakan tanpa kejelasan: wisata edukasi, edutourism, storynomic tourism, desa wisata. Semua menyentuh wilayah yang sama, namun tidak satu pun memiliki disiplin desain yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan kualitasnya. Program DBE hadir untuk mengisi ruang kosong itu, bukan label baru yang menambah kerumunan istilah, melainkan standar yang menyatukan praktik yang sudah lama berjalan.

Salah satu misi strategis yang diemban AELI melalui kerangka ini adalah membantu provider Experiential Learning yang masih berkembang, termasuk yang beroperasi dalam skala UMKM, untuk naik kelas menjadi penyedia jasa yang berstandar, profesional, dan terverifikasi. Bukan sekadar pelaku industri, melainkan arsitek perancang transformasi manusia yang dapat dipertanggungjawabkan kualitas dan keamanannya.

Momen Reveal: Memperkenalkan INDEX untuk Pertama Kalinya

Setelah menegaskan bahwa sebuah standar tidak akan berarti banyak jika hanya berhenti di atas kertas, bahwa standar harus terlihat, harus bisa dicari, harus bisa ditemukan oleh siapa pun yang membutuhkannya, Gigih menyampaikan pengumuman yang menjadi puncak seluruh rangkaian IELC 2026.

“Bapak dan Ibu, izinkan saya memperkenalkan kepada Bapak dan Ibu semua, untuk pertama kalinya,” ujarnya, sesaat sebelum sebuah bumper video menampilkan nama besar di layar: INDEX, Indonesia Destination-Based Exploration.

INDEX diperkenalkan sebagai platform yang mempertemukan destinasi, provider, pengguna jasa, dan pemangku kepentingan dalam satu ekosistem yang terhubung. Ia menjalankan tiga fungsi utama. Mapping memetakan program dan destinasi berbasis pengalaman di Indonesia secara sistematis dan terstruktur. Connecting menghubungkan provider, pengguna jasa, destinasi, akademisi, pemerintah, dan mitra strategis dalam satu ekosistem kolaboratif. Developing mendorong pengembangan kualitas program, kapasitas SDM, dan inovasi berkelanjutan untuk kemajuan Program DBE di Indonesia.

“Selama ini, ribuan destinasi dengan Program DBE yang sudah dirancang oleh anggota-anggota AELI di seluruh Indonesia, tersebar tanpa ada yang menyatukannya,” jelas Gigih. “Sebuah perusahaan yang ingin mengembangkan timnya lewat pengalaman di destinasi, atau sebuah sekolah yang ingin merancang study tour yang bermakna, sering kali tidak tahu ke mana harus mencari. Provider yang sudah punya program berkualitas, tidak punya ruang untuk ditemukan.”

Menegaskan Batasan: INDEX Bukan Online Travel Agent

Salah satu bagian paling penting dari pidato ini adalah penegasan yang dibuat Gigih secara eksplisit dan tegas mengenai model bisnis INDEX, sebuah klarifikasi yang penting agar tidak ada kesalahpahaman di kalangan provider maupun pengguna jasa.

“Saya perlu menegaskan satu hal sejak awal,” ujarnya. “INDEX bukan platform transaksi. INDEX adalah indeks, ruang di mana program-program DBE dari provider AELI yang sudah terverifikasi, dapat ditemukan oleh siapa pun yang membutuhkan. Begitu sebuah kecocokan ditemukan, transaksi terjadi langsung antara klien dan provider yang bersangkutan.”

Yang akan terus dikembangkan, ditegaskan Gigih, bukan kemampuan platform memproses transaksi, melainkan kedalaman pendampingan yang diberikan. Pada tahap awal, tim AELI-INDEX akan mendampingi proses pencarian dan pencocokan antara provider dan pengguna jasa. Ke depan, pendampingan ini akan diperdalam, mulai dari tahap presentasi program kepada calon klien, hingga eksekusi program itu sendiri di lapangan. “Bukan sekadar mempertemukan, tapi menemani perjalanan dari awal sampai akhir,” tegasnya.

Roadmap ke Depan dan Komitmen Bersama Kemenpar

Gigih menegaskan bahwa apa yang diperkenalkan hari itu baru permulaan. INDEX hanyalah satu bagian dari perjalanan yang lebih besar. Standar yang sudah dibangun perlu terus diperkuat melalui pengembangan kapasitas provider dan fasilitator di seluruh Indonesia. Kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, dan dunia usaha perlu terus diperluas, agar Program DBE tidak hanya hidup di kalangan pegiat EL sendiri, melainkan diakui sebagai pendekatan yang relevan bagi pembangunan kapasitas bangsa. AELI juga sedang menyiapkan rujukan tertulis yang akan menjadi fondasi pengetahuan bersama bagi seluruh pegiat Experiential Learning di Indonesia.

Momentum ini juga diperkuat dengan komitmen konkret dari pemerintah. Kementerian Pariwisata RI menyatakan dukungan dan apresiasinya terhadap program unggulan AELI, dan saat ini sedang dirumuskan draf nota kesepahaman (MoU) serta deklarasi bersama antara AELI dan Kementerian Pariwisata RI untuk menyusun roadmap sertifikasi resmi vendor Experiential Learning di Indonesia, sebuah langkah yang akan memberi kepastian standar dan profesionalisme bagi seluruh ekosistem industri ini di masa depan.

Ajakan Kolaborasi untuk Semua Pihak

Pidato ditutup dengan ajakan yang ditujukan secara spesifik ke setiap pemangku kepentingan yang hadir. Kepada pemerintah, Gigih mengajak dukungan kebijakan dan regulasi yang memungkinkan Program DBE tumbuh sebagai bagian dari arah pembangunan kapasitas SDM nasional, pijakannya sudah ada melalui UU No. 18 Tahun 2025, kini saatnya diwujudkan dalam implementasi nyata.

Kepada korporasi dan BUMN, ajakan yang disampaikan adalah menjadikan destinasi-destinasi Indonesia sebagai ruang pengembangan SDM mereka sendiri, bukan lagi sekadar pelatihan di ruang kelas, melainkan pengalaman nyata yang membentuk kepemimpinan dan kolaborasi berdampak, seperti yang sudah dibuktikan IFG melalui Kindness to Progress.

Kepada akademisi, ajakannya adalah memperkuat kerangka ini dengan riset dan kajian, agar Program DBE terus tumbuh dengan landasan keilmuan yang kokoh. Dan kepada seluruh provider serta praktisi Experiential Learning, ajakannya adalah terus meningkatkan kualitas program yang sudah dirancang, dan bergabung bersama AELI di INDEX, agar karya mereka ditemukan oleh mereka yang membutuhkannya.

“Bapak dan Ibu, hari ini kita telah melangkah bersama, beyond destination, into experience,” tutup Gigih Gesang. “Melampaui sekadar tempat yang kita kunjungi, menuju pengalaman yang benar-benar membangun kapasitas bangsa.”

Dengan pidato penutup ini, IELC 2026 mengakhiri rangkaiannya bukan dengan sekadar ucapan terima kasih dan salam perpisahan, melainkan dengan sebuah nama baru bagi gerakan yang sudah lama berjalan, dan sebuah rumah baru bagi ekosistem yang selama ini tersebar. Delapan sesi, delapan sudut pandang, telah bertemu di satu titik. Dan titik itu, mulai hari ini, memiliki identitasnya sendiri.

Materi Clossing Speech Ketua Umum AELI : https://drive.google.com/file/d/1mxH-HUhYNy0B4P9Z7YrubNNyEB16-diy/view?usp=drive_link

Artikel ini adalah bagian kedelapan dan penutup dari rangkaian liputan mendalam Indonesia Experiential Learning Conference (IELC) 2026. Ikuti perkembangan INDEX dan Program DBE melalui kanal resmi AELI.

Sekretariat Dewan Pengurus Pusat
Jalan Simpang Tiga Kalibata No. 01.A
Duren Tiga - Jakarta Selatan 12830 - INDONESIA
Telepon [62-21] 2208-3446
Email : [email protected], Milis AELI : [email protected].

Log in with your credentials

Forgot your details?