Sesi pleno keempat, sekaligus sesi pleno penutup Indonesia Experiential Learning Conference (IELC) 2026, membawa forum kepada bukti paling konkret tentang bagaimana Program Destination-Based Exploration sesungguhnya dijalankan di lapangan. Dian Wibowo Utomo, S.Psi., M.Pd., Founder Wit Gedhang Consulturement (WGC) dan Praktisi Experiential Learning anggota AELI, memaparkan program bertajuk “Destination Base Experience Program: Not Only Sight Seeing, Grow Our Human-Being”, sebuah studi kasus nyata dari kawasan Borobudur-Yogyakarta-Prambanan.
Jika sesi-sesi sebelumnya membahas kebijakan, kerangka global, transformasi pendidikan, dan pembuktian dampak di korporasi, sesi ini menutup rangkaian pleno dengan menunjukkan bagaimana sebuah provider Experiential Learning benar-benar merancang, dari nol, sebuah program berbasis destinasi yang utuh dan berbasis metodologi akademis yang kokoh.
BYP: Bukan Sekadar Tiga Kata, Melainkan Jangkar Kawasan Nasional
Program yang dipaparkan Bapak Dian berpusat pada BYP, akronim dari Borobudur-Yogyakarta-Prambanan. Kawasan ini bukan destinasi biasa, ia merupakan salah satu dari 10 Destinasi Pariwisata Prioritas nasional yang berfungsi sebagai jangkar penyangga utama untuk Kawasan Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Borobudur. Kawasan ini ditata berdasarkan Rencana Induk Destinasi Pariwisata Nasional (RIDPN) untuk mendistribusikan beban kunjungan wisatawan dan meningkatkan ekonomi kawasan secara merata.
Tagline yang diusung program ini secara langsung menegaskan filosofinya: “Not Only Sight Seeing, Grow Our Human-Being”, bukan hanya melihat-lihat, tapi menumbuhkan sisi kemanusiaan kita. Ini adalah pernyataan sikap yang menolak model wisata pasif, di mana peserta hanya menjadi penonton dari objek-objek bersejarah, dan sebaliknya mendorong peserta menjadi subjek yang aktif belajar dan bertransformasi.
Dua Jenis Adventure Tourism, dan Mengapa BYP Memilih yang Berbeda
Untuk memahami mengapa program ini dirancang seperti sekarang, Bapak Dian mengajak peserta memahami dulu kerangka akademis di baliknya. Mengutip klasifikasi Millington dan kawan-kawan pada tahun 2001, konsep adventure tourism terbagi menjadi dua jenis yang fundamental berbeda.
Activity-Driven Adventure Tourism menjadikan aktivitas petualangan sebagai fokus utama. Daya tarik utamanya adalah kegiatan petualangan itu sendiri, lokasi hanyalah latar, sementara sensasi dari aktivitas yang dilakukan adalah tujuan sesungguhnya.
Destination-Driven Adventure Tourism, sebaliknya, menjadikan destinasi sebagai fokus utama. Aktivitas menjadi cara untuk menikmati tempat tersebut, orang tertarik pada lokasi, sementara aktivitas mendukung pengalaman menjelajahi tempat itu.
Program BYP secara sadar dirancang mengikuti model kedua. Ini bukan program yang bisa dipindah begitu saja ke destinasi lain, ia lahir dari, dan hanya bisa hidup di, konteks spesifik Borobudur, Yogyakarta, dan Prambanan.
Model DBP: Empat Komponen yang Tidak Boleh Terlewat
Inti metodologis dari paparan Bapak Dian adalah model Destination-Based Program (DBP) yang efektif, yang mengintegrasikan empat komponen yang saling bergantung satu sama lain.
Konteks Destinasi adalah fondasi program, pemahaman mendalam tentang geografi, ekologi, sejarah, dan sosial-budaya destinasi. Tanpa pemahaman ini, program apapun yang dirancang hanya akan menjadi kegiatan generik yang bisa dilakukan di mana saja.
Pengalaman Inti adalah aktivitas primer yang dirancang khusus untuk menghadirkan kontak langsung antara peserta dengan esensi destinasi, bukan sekadar melihat dari kejauhan, melainkan benar-benar mengalami apa yang membuat tempat itu unik.
Fasilitasi Refleksi adalah sesi terpimpin yang membantu peserta mengolah pengalaman yang baru dijalani menjadi pemahaman dan wawasan baru. Tanpa tahap ini, pengalaman sekadar lewat begitu saja tanpa meninggalkan pembelajaran yang mendalam.
Aksi Lanjutan adalah mekanisme untuk memastikan bahwa pembelajaran dari destinasi benar-benar diterapkan dalam konteks nyata peserta setelah program berakhir, memastikan dampaknya tidak berhenti begitu peserta meninggalkan lokasi.
Siklus Kolb: Fondasi Akademis di Balik Setiap Program
Seluruh rancangan program BYP, ditegaskan Bapak Dian, berpijak pada Siklus Kolb, kerangka Experiential Learning klasik yang terdiri dari empat tahap berkelanjutan.
Concrete Experience adalah tahap di mana peserta terlibat langsung dalam aktivitas nyata, dalam konteks pariwisata, ini adalah momen ketika wisatawan berada di lapangan, mengikuti ritual budaya, menjelajahi ekosistem, atau berinteraksi dengan komunitas lokal.
Reflective Observation adalah tahap peserta mengamati dan merefleksikan pengalaman dari berbagai sudut pandang. Fasilitator memandu dengan pertanyaan-pertanyaan kritis: apa yang terjadi, apa yang dirasakan, apa yang mengejutkan.
Abstract Conceptualization adalah tahap peserta membangun konsep, teori, atau generalisasi dari hasil refleksi mereka, di sinilah pengalaman lapangan terhubung dengan pengetahuan akademis, data, dan praktik terbaik dari destinasi lain.
Active Experimentation adalah tahap peserta menguji konsep baru dalam situasi berbeda atau merencanakan aksi konkret. Dalam konteks pariwisata, ini bisa berupa perancangan program destinasi baru berdasarkan pembelajaran yang diperoleh.
Membangun Dunia untuk Peserta: Sebuah Contoh Kreatif
Salah satu bagian paling menarik dari paparan ini adalah bagaimana WGC merancang narasi imersif untuk membuat pengalaman peserta lebih bermakna. Dalam program bertajuk “Malioboro Rush for the Crown”, peserta ditempatkan dalam peran sebagai Pasukan Kerajaan atau Bregada, sebuah kerangka naratif yang menegaskan bahwa setiap tantangan yang dihadapi peserta adalah fondasi kerajaan yang mereka bangun bersama, bahwa keputusan dan kontribusi setiap anggota membentuk sinergi tim yang kuat, dan bahwa mahkota yang menjadi simbol pencapaian bukan milik individu, melainkan pencapaian kolektif.
Program ini menyusuri tiga pilar utama: menelusuri Sumbu Filosofi Yogyakarta yang mencakup Tugu, Malioboro, dan Keraton, mengeksplorasi tantangan kolaboratif sepanjang rute perjalanan, dan menjelajah Poros Mataram sebagai konsep inti perjalanan. Beliau menjelaskan mengapa program semacam ini tidak bisa direplikasi di tempat lain: keterkaitan erat dengan sejarah, filosofi yang telah diakui dunia melalui UNESCO, dan simbol Mahkota sebagai penjaga budaya Yogyakarta menjadikannya cerita perjalanan 250 tahun yang menjadi narasi unik yang tidak dapat direplikasi di destinasi lain.
Program lain bertajuk “Kotagede: The Royal Jamu Wisdom” menggunakan filosofi jamu tradisional sebagai media pembelajaran kolaborasi dan sinergi tim, dengan tiga pilar utama: warisan dan kebijaksanaan tradisional, perpaduan tindak tangan identitas dan nilai kolektif, serta esensi proses dan refleksi pembelajaran.
Blueprint Perjalanan: Dari Rasa Ingin Tahu Hingga Ingatan Jangka Panjang
Bapak Dian juga memaparkan blueprint perjalanan pengalaman yang dirancang WGC, yang terdiri dari lima tahap: Discover (memicu rasa ingin tahu melalui film, media sosial, atau paparan awal), Immerse (kelas budaya, kuliner, permainan, museum, pertunjukan langsung), Connect (bertemu komunitas, perajin, seniman, dan pemandu lokal), Extend (rute ke daerah asal budaya seperti pantai, gunung, sawah, kota sejarah), dan Remember (cendera mata UMKM, cerita digital, dan komunitas alumni wisata).
“Pengalaman dimulai dari rasa ingin tahu, lalu berlanjut menjadi hubungan, kunjungan daerah, dan ingatan jangka panjang,” jelas Bapak Dian, menegaskan bahwa sebuah program berbasis destinasi yang baik tidak berhenti begitu peserta pulang, ia harus dirancang untuk terus hidup dalam ingatan dan bahkan komunitas yang terbentuk setelahnya.
Program Ini Bukan Hanya Sekadar Melihat-lihat
Paparan Bapak Dian menjadi penutup yang sangat pas bagi rangkaian sesi pleno IELC 2026, karena ia menunjukkan secara langsung bagaimana seluruh kerangka teoretis yang dibahas di sesi-sesi sebelumnya, dari kebijakan pemerintah, tren wisatawan global, hingga transformasi pendidikan, benar-benar bisa diwujudkan menjadi program nyata yang bisa dijalankan hari ini oleh provider Experiential Learning di seluruh Indonesia.
“Program ini bukan hanya sekadar melihat-lihat, tapi menumbuhkan kemanusiaan kita,” tegas Bapak Dian, mengulang kembali tagline yang menjadi jiwa seluruh presentasinya.
Bagi anggota AELI dan praktisi Experiential Learning lainnya, presentasi ini menjadi contoh nyata bagaimana metode akademis yang kokoh, Siklus Kolb, klasifikasi adventure tourism, model DBP empat komponen, bisa dipadukan dengan kreativitas naratif untuk menghasilkan program yang bukan hanya menghibur, tapi benar-benar membentuk manusia yang menjalaninya.
Materi Plenary Dian Wibowo Utomo, S.Psi., M.Pd. : https://drive.google.com/file/d/1asESjsE4AkU7Xu0N0DSEZQc8VDKrhbFm/view?usp=drive_link
Artikel ini adalah bagian ketujuh dari rangkaian liputan mendalam Indonesia Experiential Learning Conference (IELC) 2026.