Sesi keynote ketiga Indonesia Experiential Learning Conference (IELC) 2026 membawa forum ke wilayah yang lebih personal dan menantang. Bapak Agus Dwi Handaya, Managing Director Human Capital Danantara Indonesia, tidak membuka dengan data atau kebijakan, melainkan dengan satu pertanyaan sederhana yang justru menjadi salah satu momen paling reflektif sepanjang konferensi.
Pertanyaan yang Mengubah Cara Berpikir
“Ketika kita membawa seorang ke sebuah destinasi, apa sesungguhnya yang ingin kita dapatkan?” Pertanyaan ini digantung sejenak di ruangan, membiarkan setiap peserta merenungkannya sebelum Bapak Agus Dwi Handaya melanjutkan paparannya.
Jawaban yang ditawarkan tidak sederhana. Bukan sekadar foto untuk media sosial. Bukan sekadar tanda tangan absensi kegiatan perusahaan. Yang sesungguhnya dicari, tegas beliau, adalah transformasi nyata pada manusia yang mengalaminya, sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar kunjungan seremonial.
Tema besar IELC 2026, “Beyond Destination, Into Experience”, menemukan penjabarannya yang paling filosofis dalam sesi ini. Indonesia memiliki ribuan destinasi, kata beliau, tapi masa depan bangsa tidak ditentukan oleh berapa banyak destinasi yang dimiliki, melainkan oleh kualitas pengalaman yang mampu membentuk manusia di tempat-tempat tersebut.
Kalimat yang kemudian menjadi salah satu kutipan paling dikenang dari keynote ini: “Destinasi tanpa pengalaman hanyalah lokasi, pengalaman tanpa pembelajaran hanyalah kenangan.” Namun, ditegaskan beliau, pengalaman yang dirancang dengan benar dapat menjadi laboratorium hidup, ruang di mana pembelajaran sejati terjadi.
PeopleMath: Memahami Manusia Secara Utuh
Inti dari paparan Bapak Agus Dwi Handaya adalah sebuah gagasan bernama PeopleMath, sebuah kerangka untuk memahami bahwa Experiential Learning hanya akan efektif bila kita memahami manusia secara utuh, bukan sekadar dari angka-angka di atas laporan.
“Selama ini kita sering membaca produktivitas dari ujungnya: KPI, angka penjualan, jumlah peserta, jumlah proyek, atau jumlah jam pelatihan,” ujar beliau. “Itu penting, tapi apakah itu sudah cukup dalam memahami manusia?” Data menunjukkan bahwa angka-angka ini bisa dipalsukan atau direkayasa, sementara manusia yang sesungguhnya, dengan segala kompleksitasnya, tidak bisa.
Dari sinilah PeopleMath menawarkan rumus inti yang disebut Produktivitas dan Kebahagiaan (PPH): kombinasi dari Knowledge (pengetahuan yang relevan dan mendalam), Skill (kemampuan nyata yang bisa dieksekusi), Technology (alat yang melipatgandakan output), Motivation (energi yang bermakna dan mendorong pertumbuhan), Character (penjaga arah dalam bertindak), dan Human Health (kesehatan fisik dan mental).
Pertanyaan yang diajukan PeopleMath, jelas Bapak Agus Dwi Handaya, bukan sekadar apakah target tercapai, melainkan: manusia seperti apa yang sedang kita bentuk? Apakah karakternya cukup kuat untuk menjaga arah kemampuannya? Apakah motivasinya sehat, atau hanya didorong oleh rasa takut?
Gagasan PeopleMath yang dipaparkan di IELC 2026 ini bukan sekadar konsep yang berhenti di atas panggung. Kerangka lengkapnya akan dituangkan dalam sebuah buku yang ditulis sendiri oleh Bapak Agus Dwi Handaya, dan akan resmi diluncurkan pada Jumat, 3 Juli 2026, di Hotel Mulia, Jakarta, hanya beberapa hari setelah IELC 2026. Bagi peserta yang tertarik mendalami rumus-rumus PeopleMath secara lebih lengkap, termasuk turunan-turunannya seperti People Development Role, Leader Development Role, hingga Civilization Building Process, peluncuran buku ini akan menjadi kesempatan untuk memahami kerangka tersebut secara utuh dan sistematis.
Peran Sistem, Pemimpin, dan Individu
PeopleMath juga menjabarkan tiga peran yang membentuk kualitas manusia dalam sebuah organisasi. Peran sistem adalah kerangka yang dibangun oleh pemilik organisasi, menjadi fondasi bagi seluruh proses pengembangan. Peran pemimpin dijabarkan melalui pendekatan 3N: Nagih (menagih output pembelajaran yang jelas, apakah peserta mampu merancang solusi atau memperbaiki cara berkolaborasi), Nata (mendesain pengalaman secara utuh, lengkap dengan pre-brief, observasi, tantangan, diskusi, refleksi, hingga rencana aksi dan follow-up), dan Nuntun (mengajukan pertanyaan yang mengubah cara pandang, apa yang Anda lihat, apa yang Anda rasakan).
Sementara itu, peran individu ditegaskan melalui tiga kata kunci: Nyerap (aktif mencari dan mengolah pengetahuan yang relevan), Ngulang (mengubah insight menjadi latihan nyata), dan Ngerefleksi (membaca pengalaman untuk menemukan makna).
“Experiential Learning yang efektif adalah ketika organisasi merancang, pemimpin menghidupkan, dan peserta belajar,” tegas Bapak Agus Dwi Handaya, merangkum bagaimana ketiga peran ini harus bekerja secara selaras, bukan terpisah.
Lima Pergeseran yang Harus Terjadi
Salah satu bagian paling relevan bagi industri Experiential Learning dari paparan ini adalah lima pergeseran mendasar yang diserukan beliau untuk terjadi dalam IELC 2026 dan seterusnya.
Pertama, dari inventaris menuju arsitektur pengalaman, bukan sekadar mendaftar aktivitas yang tersedia, melainkan merancang pengalaman secara sengaja dan terstruktur.
Kedua, dari event menuju learning journey, bukan sekadar kegiatan satu kali yang berakhir begitu peserta pulang, melainkan perjalanan pembelajaran yang berkelanjutan.
Ketiga, dari fasilitator sebagai penghibur menuju leader sebagai penuntun, pergeseran peran yang fundamental, dari sekadar membuat peserta senang menjadi benar-benar menuntun proses pembelajaran mereka.
Keempat, dari peserta sebagai pengunjung menuju peserta sebagai co-creator, peserta tidak lagi pasif menerima program, melainkan aktif turut merancang dan membentuk pengalaman mereka sendiri.
Kelima, dari laporan kegiatan menuju bukti dampak, pergeseran dari sekadar mendokumentasikan apa yang terjadi menjadi benar-benar mengukur apa yang berubah pada manusia yang mengalaminya.
Menutup dengan Keyakinan tentang Indonesia
Bapak Agus Dwi Handaya mengakhiri keynote-nya dengan sebuah keyakinan besar tentang Indonesia: negeri yang diberkahi bentangan alam dari Sabang sampai Merauke, kekayaan budaya dari ratusan suku bangsa, dan semangat gotong royong yang mengalir dalam darah bangsa ini, modal pariwisata yang tidak tertandingi di dunia.
Dengan landasan hukum yang kuat dalam UU Kepariwisataan Nomor 18 Tahun 2025, visi Renstra 2025-2029, prioritas sepuluh Destinasi Pariwisata Prioritas dan tiga Kawasan Regeneratif, serta komitmen seluruh pemangku kepentingan, ditegaskan beliau bahwa Indonesia memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadikan pariwisata sebagai kebanggaan dunia.
Namun kalimat penutup yang paling menggetarkan, dan menjadi salah satu kutipan paling sering dikutip ulang sepanjang IELC 2026, adalah yang paling sederhana:
“Destinasi terbesar adalah kualitas manusia Indonesia.”
Kalimat ini menjadi jembatan penting menuju sesi-sesi berikutnya di IELC 2026, bahwa di balik segala kebijakan, strategi, dan infrastruktur pariwisata, yang paling menentukan pada akhirnya adalah manusia yang tumbuh melaluinya.
Materi Keynote Speech Managing Director Human Capital Danantara Indonesia :https://drive.google.com/file/d/1hBkMLGhgQlitOM3aamTXlZ_Mc_EK5rs1/view?usp=drive_link
Artikel ini adalah bagian ketiga dari rangkaian liputan mendalam Indonesia Experiential Learning Conference (IELC) 2026.