Jika sesi keynote dan pleno pertama Indonesia Experiential Learning Conference (IELC) 2026 berbicara tentang arah kebijakan besar dan data pariwisata nasional, sesi pleno kedua membawa forum turun ke level yang sangat konkret: bagaimana perubahan ini benar-benar terjadi di ruang kelas dan perjalanan sekolah anak-anak Indonesia.
Dra. Ninik Purwaning Setyorini, M.A. dari Direktorat Sekolah Menengah Pertama, mewakili Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), membawakan paparan bertajuk “Pembelajaran Mendalam melalui Wisata Bermakna: Dari Perjalanan menjadi Pengalaman Belajar”, sebuah judul yang secara langsung menjawab tema besar IELC 2026, “Beyond Destination, Into Experience”, dari sudut pandang dunia pendidikan.
Mengapa Pembelajaran Mendalam Membutuhkan Pengalaman Nyata?
Ibu Ninik membuka paparannya dengan sebuah premis dasar: murid belajar lebih mendalam ketika mereka mengalami, menghubungkan, dan merefleksikan pembelajaran dalam konteks kehidupan nyata, bukan sekadar menerima informasi secara pasif di dalam kelas.
Prinsip Pembelajaran Mendalam yang dianut Kemendikdasmen bertumpu pada tiga karakter: berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Ketiganya bergerak melalui tahapan pengalaman belajar, memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan, hingga menghasilkan apa yang disebut Kompetensi Utuh, kondisi ketika murid tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga memahami makna, menghubungkan konsep dengan kehidupan, dan mampu menerapkannya dalam berbagai konteks.
“Pengalaman nyata penting karena menghubungkan konsep dengan dunia nyata, membangun rasa ingin tahu, mengembangkan berpikir kritis dan pemecahan masalah, serta menghasilkan pembelajaran yang lebih bermakna,” jelas Ibu Ninik. Di sinilah Wisata Bermakna diposisikan sebagai salah satu bentuk pengalaman belajar autentik yang mendukung implementasi Pembelajaran Mendalam bagi murid, bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler pelengkap, melainkan strategi pedagogis yang terencana.
Pergeseran dari Study Tour Menuju Wisata Bermakna
Bagian inti dari paparan ini adalah tabel perbandingan yang secara gamblang menunjukkan pergeseran paradigma yang sedang didorong Kemendikdasmen, sebuah kerangka yang, menariknya, hampir persis sejalan dengan konsep Program Destination-Based Exploration yang menjadi benang merah IELC 2026.
Dalam model Study Tour konvensional, perjalanan diposisikan sebagai tujuan itu sendiri. Kegiatannya bersifat rekreasi. Murid hanya melihat objek, mendengarkan penjelasan dari pemandu, mengumpulkan dokumentasi berupa foto, dan pulang membawa kenangan semata.
Dalam model Wisata Bermakna, pembelajaran menjadi tujuan utama. Murid belajar melalui pengalaman autentik: mengamati fenomena secara langsung, bertanya dan menyelidiki, merefleksikan pengalaman yang dialami, hingga akhirnya pulang membawa pemahaman, karya nyata, dan aksi lanjutan.
“Destinasi menjadi media belajar yang membantu murid memahami dunia melalui pengalaman nyata,” tegas Ibu Ninik, merumuskan esensi dari seluruh pergeseran ini dalam satu kalimat.
Merancang Wisata Bermakna: Tiga Tahap yang Tidak Boleh Dilewatkan
Yang membuat paparan ini istimewa adalah kejelasan metodologisnya. Wisata Bermakna, ditegaskan Ibu Ninik, bukan kegiatan yang bisa dirancang secara spontan atau dadakan. Ia adalah rangkaian pembelajaran yang dirancang secara utuh melalui tiga tahap yang saling berkesinambungan.
Tahap pertama, Pra-Wisata, adalah tahap membangun kesiapan belajar. Di tahap ini, guru dan sekolah menetapkan tujuan pembelajaran yang jelas, menyusun pertanyaan pemantik yang akan memandu eksplorasi murid, menyiapkan lembar kerja peserta didik dan instrumen pendukung, membagi peran dan kelompok, serta berkoordinasi dengan pihak destinasi atau mitra yang akan dikunjungi.
Tahap kedua, Pelaksanaan Wisata, adalah tahap mengalami dan mengeksplorasi. Murid melakukan observasi terarah, wawancara dan diskusi dengan sumber-sumber di lapangan, pengumpulan data dan bukti, dokumentasi sebagai bukti belajar, serta konfirmasi atas temuan-temuan yang mereka dapatkan.
Tahap ketiga, Pasca-Wisata, adalah tahap memaknai dan menghasilkan. Murid melakukan refleksi individu maupun kelompok, menganalisis hasil pembelajaran, mempresentasikan hasil belajar mereka, menghasilkan produk pembelajaran konkret, hingga menentukan aksi atau tindak lanjut dari apa yang telah mereka pelajari.
“Perencanaan yang terarah membantu setiap pengalaman berkembang menjadi pembelajaran yang mendalam dan bermakna,” tegas Ibu Ninik, menekankan bahwa kualitas sebuah perjalanan belajar ditentukan sejak sebelum keberangkatan, bukan hanya saat berada di lokasi.
Contoh Operasional: Bagaimana Ini Bekerja di Lapangan
Untuk memastikan konsep ini tidak berhenti sebagai teori, Ibu Ninik memaparkan contoh operasional yang bisa langsung diterapkan sekolah. Sebagai ilustrasi, jika tujuan pembelajarannya adalah murid memahami hubungan antara aktivitas manusia dan kelestarian lingkungan, maka destinasi yang dipilih bisa berupa kawasan konservasi, desa wisata, museum, industri, situs budaya, atau bahkan lingkungan sekitar sekolah sendiri.
Pertanyaan pemantik yang bisa diajukan antara lain: bagaimana lingkungan ini memberikan manfaat bagi masyarakat, tantangan apa yang dihadapi, dan solusi apa yang dapat dikembangkan. Aktivitas murid mencakup observasi, wawancara, pengumpulan data, dokumentasi, diskusi, dan refleksi. Produk pembelajaran yang dihasilkan bisa berupa laporan, infografis, video, poster, presentasi, hingga prototipe sederhana. Tindak lanjutnya bisa berupa berbagi hasil pembelajaran, mengembangkan aksi nyata di sekolah, atau menerapkan solusi sederhana sesuai konteks yang dihadapi.
“Setiap destinasi dapat menjadi ruang belajar ketika dipilih berdasarkan tujuan pembelajaran dan dirancang sebagai pengalaman belajar yang utuh,” jelas Ibu Ninik, sebuah penegasan yang secara langsung menggarisbawahi filosofi Program Destination-Based Exploration: bukan destinasi yang menentukan pembelajaran, melainkan tujuan pembelajaran yang menentukan destinasi mana yang relevan.
Setiap Destinasi Menjadi Ruang Belajar
Paparan Ibu Ninik ditutup dengan penegasan bahwa Pembelajaran Mendalam tumbuh melalui tiga elemen yang saling menguatkan: pembelajaran yang menghubungkan konsep dengan kehidupan nyata sehingga murid memahami makna, kolaborasi yang memperkuat sinergi antara satuan pendidikan, destinasi, masyarakat, dan berbagai mitra pembelajaran, serta dampak yang mendorong murid memahami, berkarya, dan berkontribusi melalui pengalaman belajar yang bermakna.
“Pembelajaran Mendalam tumbuh melalui pengalaman yang dirancang dengan tujuan yang jelas, dijalani dengan rasa ingin tahu, dan dimaknai melalui refleksi,” tegas Ibu Ninik dalam penutup paparannya. “Wisata Bermakna menghadirkan setiap destinasi sebagai ruang belajar yang memperkaya pemahaman, menginspirasi karya, serta mendorong aksi nyata.”
Paparan dari Kemendikdasmen ini menjadi pelengkap penting bagi rangkaian IELC 2026. Jika sesi-sesi sebelumnya membahas kebijakan pariwisata pada level nasional dan makro, sesi ini menunjukkan bahwa transformasi yang sama sesungguhnya sudah mulai dirancang secara sistematis di dunia pendidikan dasar dan menengah, bahwa anak-anak Indonesia hari ini pun sedang diajak untuk melihat setiap perjalanan bukan sekadar sebagai jalan-jalan, melainkan sebagai kesempatan belajar yang dirancang dengan sengaja.
Materi Plenary Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) : https://drive.google.com/file/d/1zTBXTwR973koREZYcAHnk8U0c2poEm5Z/view?usp=drive_link
Artikel ini adalah bagian kelima dari rangkaian liputan mendalam Indonesia Experiential Learning Conference (IELC) 2026.