Setiap Destinasi Adalah Monumen Kebesaran Bangsa: Pesan Menteri Pariwisata di IELC 2026

Ketika Indonesia Experiential Learning Conference (IELC) 2026 dibuka di Balairung Soesilo Soedarman, Jakarta, pesan pertama yang menggetarkan ruangan datang dari pucuk pimpinan pariwisata nasional. Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ibu Widiyanti Putri Wardhana, menyampaikan sambutan yang dibacakan oleh Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas SDM Aparatur dan Pendidikan Vokasi, Dr. Andar Danova L. Goeltom, S.Sos., M.Sc., CPM. Pesan ini bukan sekadar seremoni pembuka, melainkan penegasan arah baru pariwisata Indonesia yang akan menjadi fondasi seluruh rangkaian konferensi.

Tema yang Tepat Waktu

“Beyond Destination, Into Experience”, tema IELC 2026 ini, menurut Ibu Menteri, datang di momen yang tepat. Arah pembangunan pariwisata Indonesia sedang bergeser secara fundamental. Selama puluhan tahun, kesuksesan pariwisata diukur dari satu angka: berapa banyak wisatawan yang datang. Era itu sudah berakhir.

Kementerian Pariwisata telah menetapkan visi strategis dalam Rencana Strategis (Renstra) 2025-2029: mewujudkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan dalam mendukung percepatan transformasi ekonomi menuju Indonesia Emas 2045. Ini bukan sekadar cita-cita di atas kertas. Visi ini dibangun di atas tiga pilar yang saling menopang.

Pilar pertama adalah transformasi ekonomi. Pariwisata harus menjadi kontributor signifikan dalam PDB nasional, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif di seluruh penjuru Nusantara, bukan hanya terpusat di destinasi-destinasi populer yang sudah mapan.

Pilar kedua adalah keberlanjutan lingkungan. Indonesia tidak boleh mewariskan kepada generasi mendatang lingkungan yang rusak atas nama pertumbuhan. Pariwisata harus berjalan seiring dengan kelestarian alam dan budaya, bukan mengorbankannya.

Pilar ketiga adalah penguatan identitas bangsa. Di tengah arus globalisasi yang semakin deras, pariwisata harus menjadi instrumen yang memperkuat jati diri dan kebanggaan nasional, bukan melarutkannya.

“Dalam konteks Indonesia Emas 2045, kita sedang berlomba dengan waktu,” demikian pesan yang disampaikan. Pada tahun itu, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar di dunia, dan pariwisata adalah salah satu kunci yang akan membuka pintu menuju cita-cita besar tersebut.

Sepuluh Destinasi Prioritas, Tiga Kawasan yang Diperbarui

Untuk mewujudkan visi ini, pemerintah telah menetapkan sepuluh Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) sebagaimana diamanatkan dalam RPJMN dan Renstra Kemenpar: Danau Toba, Borobudur-Yogyakarta-Prambanan, Lombok-Gili-Tramena, Labuan Bajo, Manado-Likupang, Bromo-Tengger-Semeru, Raja Ampat, Wakatobi, Bangka Belitung, dan Morotai.

Namun yang membedakan kebijakan kali ini adalah hadirnya konsep baru: tiga Kawasan Regeneratif, yaitu Bali, Kepulauan Riau, dan Jakarta. Kawasan regeneratif bukan sekadar mempertahankan kondisi yang sudah ada, melainkan secara aktif memulihkan, memperbarui, dan meningkatkan ekosistem alam dan budaya setempat.

Ini adalah paradigma yang berbeda dari pendekatan konvensional. Dengan pendekatan regeneratif, pariwisata tidak lagi dipandang sebagai sumber masalah lingkungan, melainkan justru menjadi solusi nyata bagi pemulihan ekosistem, revitalisasi budaya lokal, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara holistik. Inilah yang disebut Ibu Menteri sebagai wajah pariwisata masa depan Indonesia.

Experiential Learning Sebagai Instrumen Strategis

Di sinilah IELC 2026 menemukan relevansinya. Menurut Ibu Menteri, metode pembelajaran berbasis pengalaman atau Experiential Learning bukan sekadar pendekatan pelengkap, melainkan instrumen strategis untuk mewujudkan seluruh visi besar tersebut.

Destinasi pariwisata, ditegaskan dalam sambutan ini, bukan sekadar tempat berlibur. Destinasi adalah ruang pembelajaran hidup, laboratorium budaya, dan inkubator kapasitas bangsa. Setidaknya ada enam dimensi kapasitas yang bisa dikembangkan melalui destinasi.

Kapasitas ekonomi, setiap destinasi yang berkembang melahirkan ekosistem ekonomi baru: UMKM lokal, industri kuliner dan kriya, jasa transportasi dan akomodasi, hingga ekonomi digital. Ini adalah inkubator wirausaha yang nyata.

Kapasitas SDM, industri pariwisata membutuhkan tenaga terampil dalam skala besar: pemandu wisata berlisensi, chef profesional, manajer hotel, programmer aplikasi wisata, hingga fotografer dan content creator.

Kapasitas ilmu pengetahuan, destinasi wisata adalah sumber riset yang tidak pernah kering, dari penelitian arkeologi di situs prasejarah hingga pengembangan obat-obatan dari kearifan lokal.

Kapasitas budaya dan nasionalisme, ketika seorang anak muda dari Jakarta mengunjungi Danau Toba dan mendengar langsung kisah leluhur Batak, di situlah nasionalisme tumbuh secara organik dan otentik.

Kapasitas diplomasi, setiap wisatawan asing yang pulang dengan kesan terbaik tentang Indonesia adalah duta pariwisata yang tidak dibayar. Mereka menceritakan keindahan Indonesia kepada keluarga, sahabat, dan dunia.

Pariwisata berbasis pengalaman, ditegaskan dalam sambutan tersebut, harus dirasakan, dikenang, dan dihormati, sebuah frasa yang menjadi salah satu benang merah yang terus digaungkan sepanjang IELC 2026.

Landasan yang Kuat, Momen yang Tidak Boleh Dilewatkan

Sambutan Ibu Menteri turut menegaskan bahwa Indonesia memiliki semua yang dibutuhkan untuk mewujudkan visi ini: landasan hukum yang kuat dalam UU Kepariwisataan Nomor 18 Tahun 2025, visi Renstra 2025-2029 yang jelas, prioritas sepuluh DPP dan tiga Kawasan Regeneratif, serta komitmen seluruh pemangku kepentingan yang hadir di IELC 2026.

Sambutan ini ditutup dengan pesan yang menjadi salah satu kutipan paling kuat sepanjang konferensi:

“Mari kita jadikan setiap destinasi sebagai monumen kebesaran bangsa. Mari kita jadikan setiap kunjungan wisata sebagai momen pengembangan kapasitas manusia Indonesia.”

Pesan ini menjadi pijakan awal yang kokoh bagi seluruh rangkaian IELC 2026, bahwa perubahan paradigma pariwisata Indonesia, dari sekadar tempat yang dikunjungi menjadi ruang yang membentuk manusia, bukan lagi wacana, melainkan arah kebijakan yang sudah ditetapkan dari level tertinggi pemerintahan.

Artikel ini adalah bagian pertama dari rangkaian liputan mendalam Indonesia Experiential Learning Conference (IELC) 2026.

Materi Keynote Speech Mentri Pariwisata : https://drive.google.com/file/d/1M0-8ekKpKFZcp5xifigLw3_ADmLVwKpk/view?usp=drive_link

DPP AELI

Email: [email protected]  •   Website: www.aeli.or.id  •   Instagram: @dpp_aeli

 

Sekretariat Dewan Pengurus Pusat
Jalan Simpang Tiga Kalibata No. 01.A
Duren Tiga - Jakarta Selatan 12830 - INDONESIA
Telepon [62-21] 2208-3446
Email : [email protected], Milis AELI : [email protected].

Log in with your credentials

Forgot your details?