Isu Strategis Pariwisata Global dan Delapan Strategi Indonesia Menuju Pariwisata Berkualitas: Paparan Mendalam Kemenpar di IELC 2026

Setelah sesi keynote pagi menutup dengan tiga pesan besar dari Menteri Pariwisata, Wakil Kepala BPIP, dan Managing Director Human Capital Danantara Indonesia, forum Indonesia Experiential Learning Conference (IELC) 2026 memasuki sesi pleno pertama. Dr. Andar Danova L. Goeltom, S.Sos., M.Sc., CPM, Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas SDM Aparatur dan Pendidikan Vokasi, kembali naik ke podium, kali ini untuk membahas lebih mendalam arah kebijakan pariwisata nasional yang menjadi fondasi hukum bagi seluruh visi yang telah disampaikan sebelumnya.

Jika sesi keynote pagi berbicara tentang mengapa destinasi harus menjadi ruang pembelajaran, sesi ini menjawab pertanyaan berikutnya: kebijakan, data, dan strategi apa yang membuat visi tersebut bisa benar-benar terwujud di lapangan?

Mengapa Pariwisata Itu Penting?

Bapak Andar membuka dengan data yang menunjukkan skala besar industri ini bagi Indonesia. Sektor pariwisata menyerap 29 juta tenaga kerja, dengan target pengeluaran wisatawan mancanegara per kunjungan mencapai USD 1.600 hingga 1.672, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ditargetkan mencapai 20 hingga 23,59 juta kunjungan, dan perjalanan wisatawan nusantara ditargetkan menembus 1.500 juta perjalanan. Indonesia juga menargetkan masuk ke peringkat 20 besar dalam Indeks Pembangunan Pariwisata dunia.

Namun angka-angka ini, ditegaskan beliau, hanya bisa dicapai melalui sebelas arah kebijakan yang saling menopang: penguatan kelembagaan dan tata kelola destinasi, pengembangan industri dan rantai pasok yang inklusif, penerapan prinsip Blue-Green-Circular Economy, pembangunan infrastruktur hijau, peningkatan kompetensi SDM pariwisata, penguatan pemasaran yang bertanggung jawab, peningkatan kesiapsiagaan menghadapi risiko, pengembangan mekanisme pembiayaan melalui Indonesia Quality Tourism Fund, diversifikasi atraksi wisata, pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata, serta pengembangan destinasi bahari yang mendukung Ekonomi Biru.

Skala 29 juta tenaga kerja dan puluhan juta kunjungan ini bukan sekadar angka ekonomi. Di balik setiap kunjungan, ada potensi ruang belajar yang belum tentu dimanfaatkan secara sengaja. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah bersama peserta IELC 2026: mengubah skala besar ini dari sekadar volume transaksi menjadi volume pembelajaran yang terukur.

Dunia Sudah Berubah, Wisatawan Sudah Berubah

Bagian paling menggugah dari paparan ini adalah data tentang bagaimana perilaku wisatawan global telah berubah secara fundamental sejak pandemi. Tiga tren utama muncul secara jelas.

Menekankan keberlanjutan, 78 persen wisatawan berniat menginap di properti berkelanjutan setidaknya sekali dalam setahun mendatang, 70 persen menginginkan lebih banyak fasilitas ramah lingkungan di destinasi wisata, 46 persen ingin peningkatan pengelolaan sampah, dan 40 persen berencana mengurangi penggunaan transportasi udara.

Menghindari keramaian, 64 persen wisatawan kini secara aktif memilih destinasi dan atraksi yang tidak ramai, sebuah pergeseran besar dari era di mana destinasi populer selalu menjadi tujuan utama.

Mengutamakan koneksi budaya dan komunitas lokal, 66 persen wisatawan menginginkan pengalaman otentik budaya lokal, 27 persen secara aktif ingin mengenal nilai-nilai dan tradisi tempat yang dikunjungi, 59 persen ingin meninggalkan tempat yang dikunjungi dalam keadaan lebih baik dari sebelumnya, dan 25 persen bersedia membayar lebih untuk aktivitas wisata yang berdampak positif bagi masyarakat lokal.

Data ini sesungguhnya adalah kabar baik bagi seluruh peserta IELC 2026. Tren global yang ditunjukkan bukan sekadar preferensi sesaat, melainkan konfirmasi pasar bahwa arah yang selama ini diperjuangkan oleh para praktisi Experiential Learning, pengalaman otentik, koneksi dengan komunitas lokal, dampak positif bagi masyarakat, sudah menjadi permintaan nyata dari wisatawan dunia. Program berbasis destinasi yang dirancang dengan metode pembelajaran berbasis pengalaman bukan lagi sekadar idealisme, melainkan jawaban langsung atas apa yang dicari pasar hari ini.

“Pariwisata Berkualitas adalah pariwisata berkelanjutan yang memiliki daya saing sebagai prasyarat awal untuk dapat memberikan pengalaman unik dan bernilai tinggi kepada wisatawan,” tegas Bapak Andar, merumuskan definisi yang menjadi kompas seluruh kebijakan yang dipaparkannya.

Beliau juga memaparkan dua belas ekspektasi wisatawan berkualitas yang harus dipenuhi destinasi Indonesia: mulai dari persepsi keamanan, sanitasi dan kesehatan, penghormatan terhadap lingkungan dan warisan manusia, kebersihan, konektivitas, harga yang wajar, keramahan lokal, hingga kecukupan infrastruktur dan pelayanan publik.

Green Skills: Jawaban atas Tantangan SDM Pariwisata Masa Depan

Salah satu bagian paling forward-looking dari paparan ini adalah penekanan pada Green Skills sebagai jawaban atas tantangan SDM pariwisata di masa depan.

“Tren pariwisata global berubah dengan cepat. Wisatawan saat ini, terutama generasi muda dan wisatawan internasional, semakin sadar terhadap dampak lingkungan dari perjalanan mereka,” jelas Bapak Andar. Lebih dari 70 persen wisatawan bersedia membayar lebih untuk pengalaman wisata yang ramah lingkungan. Jika Indonesia tidak siap memenuhi permintaan ini, risikonya adalah kehilangan keunggulan kompetitif kepada negara lain yang sudah lebih dulu mengadopsi praktik pariwisata berkelanjutan.

Dua elemen kunci ditegaskan sebagai fondasi transformasi ini: Green Curriculum dan Green Jobs. Green Curriculum bukan sekadar menambahkan satu atau dua mata kuliah pilihan tentang keberlanjutan, melainkan mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan ke seluruh aspek pembelajaran di setiap program pendidikan pariwisata. Sementara itu, seiring industri pariwisata bertransisi menuju keberlanjutan, pasar tenaga kerja juga akan berevolusi, permintaan akan muncul untuk jenis-jenis pekerjaan baru yang barangkali belum pernah dipikirkan secara serius satu dekade lalu.

Di titik inilah kaitan dengan Experiential Learning menjadi sangat konkret. Green Curriculum tidak bisa diajarkan hanya lewat teori di ruang kelas, kompetensi mengelola destinasi secara berkelanjutan hanya bisa benar-benar dikuasai ketika calon tenaga kerja pariwisata langsung mengalami, merancang, dan mempraktikkan pengelolaan itu di destinasi sungguhan. Inilah ruang di mana pendidikan vokasi pariwisata dan metode Experiential Learning yang menjadi fokus IELC 2026 saling membutuhkan: kurikulum hijau membutuhkan laboratorium hidup untuk dipraktikkan, dan destinasi-destinasi Indonesia adalah laboratorium yang dimaksud. Pergeseran ini, ditegaskan Bapak Andar, sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk memosisikan diri sebagai pemimpin pariwisata berkelanjutan di Asia Tenggara.

Delapan Strategi Menuju Masa Depan Pariwisata Indonesia

Paparan ini ditutup dengan delapan strategi pengembangan pariwisata nasional yang perlu terus diupayakan.

Pertama, transformasi menuju Quality Tourism, menggeser paradigma dari mengejar jumlah wisatawan menuju peningkatan kualitas pengalaman, lama tinggal, dan pengeluaran wisatawan.

Kedua, pengembangan destinasi yang berkelanjutan dan regeneratif, destinasi yang tidak hanya menjaga lingkungan dan budaya, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat lokal dan memperkuat daya dukung jangka panjang.

Ketiga, penguatan SDM pariwisata berkelas dunia, melalui upskilling, reskilling, sertifikasi, penguasaan digital dan bahasa asing, serta budaya pelayanan yang unggul.

Keempat, diversifikasi produk dan pengalaman wisata, mengembangkan wisata berbasis budaya, bahari, wellness, gastronomi, adventure, MICE, hingga spiritual tourism, agar produk wisata Indonesia lebih kompetitif dan tidak homogen.

Kelima, akselerasi digitalisasi dan smart tourism, pemanfaatan AI dan big data, digital marketing, integrated tourism platform, hingga sistem data pariwisata yang lebih akurat dan real time.

Keenam, penguatan konektivitas dan infrastruktur pariwisata, meningkatkan aksesibilitas antardestinasi melalui konektivitas udara, transportasi darat dan laut, hingga last mile connectivity.

Ketujuh, peningkatan investasi dan tata kelola destinasi, membangun iklim investasi yang lebih kompetitif melalui kepastian regulasi dan tata kelola destinasi yang profesional.

Kedelapan, menjadikan pariwisata sebagai instrumen pertumbuhan inklusif, memastikan pariwisata menjadi penggerak UMKM, ekonomi kreatif, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan identitas budaya Indonesia.

Dari kedelapan strategi ini, setidaknya tiga poin memiliki kaitan langsung dengan gagasan besar yang diusung IELC 2026. Strategi diversifikasi produk wisata sejalan dengan semangat Program Destination-Based Exploration, bahwa setiap destinasi punya karakter unik yang bisa dirancang menjadi pengalaman belajar tersendiri, bukan sekadar mengikuti pola wisata generik. Strategi penguatan SDM pariwisata berkelas dunia adalah domain yang paling langsung disentuh oleh metode Experiential Learning, karena kompetensi hospitality, bahasa, dan budaya pelayanan hanya bisa ditempa secara efektif melalui pengalaman langsung, bukan sekadar pelatihan di ruang kelas. Dan strategi menjadikan pariwisata sebagai instrumen pertumbuhan inklusif sejalan dengan prinsip yang berulang kali ditegaskan sepanjang IELC 2026, bahwa manfaat dari sebuah destinasi harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat lokal, UMKM, dan generasi muda di sekitarnya.

Paparan Bapak Andar ditutup dengan sebuah pernyataan yang merangkum seluruh arah kebijakan yang telah dipaparkan sepanjang sesi:

“Masa depan pariwisata Indonesia tidak hanya ditentukan oleh keindahan destinasi yang dimiliki, tetapi oleh kemampuan kita menghadirkan pengalaman wisata yang berkualitas, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.”

Sesi ini menjadi jembatan penting bagi rangkaian sesi pleno berikutnya di IELC 2026. Data, kebijakan, dan strategi yang dipaparkan Bapak Andar memberi kerangka besar mengapa Indonesia harus bergerak, sementara sesi-sesi berikutnya akan menunjukkan bagaimana pergerakan itu sudah dan bisa diwujudkan di lapangan, mulai dari ruang kelas, ruang kerja korporasi, hingga destinasi wisata itu sendiri.

Materi Plenary Kementrian Pariwisata : https://drive.google.com/file/d/1T_MIjKoR2Miz_spR_HVnPWqhyWNQD_LJ/view?usp=drive_link

Artikel ini adalah bagian keempat dari rangkaian liputan mendalam Indonesia Experiential Learning Conference (IELC) 2026.

 

 

Sekretariat Dewan Pengurus Pusat
Jalan Simpang Tiga Kalibata No. 01.A
Duren Tiga - Jakarta Selatan 12830 - INDONESIA
Telepon [62-21] 2208-3446
Email : [email protected], Milis AELI : [email protected].

Log in with your credentials

Forgot your details?