Setelah tiga sesi sebelumnya membahas kebijakan nasional, kerangka global, dan transformasi di dunia pendidikan, sesi pleno ketiga Indonesia Experiential Learning Conference (IELC) 2026 membawa forum ke ranah yang paling dibutuhkan banyak praktisi: bukti nyata dari dunia korporasi bahwa program berbasis destinasi bukan sekadar kegiatan sosial seremonial, melainkan strategi pengembangan SDM yang hasilnya bisa diukur secara ilmiah.
Mora Nasution, Kepala Divisi Pembelajaran dan Budaya Perusahaan Indonesia Financial Group (IFG), membawakan paparan bertajuk “Experiencing Impact: Membangun Pemimpin Melalui Experiential Learning Berbasis Komunitas”, sebuah studi kasus yang menjadi salah satu presentasi paling berbasis data sepanjang IELC 2026.
Mengapa Corporate Culture Membutuhkan Lebih dari Sekadar Slogan
Bapak Mora membuka paparannya dengan pertanyaan mendasar yang sering diabaikan perusahaan: mengapa budaya perusahaan penting? Jawabannya, dijelaskan beliau melalui kerangka segitiga yang menghubungkan tiga elemen, arah strategis (mengapa perusahaan melakukan apa yang dilakukan), budaya perusahaan (bagaimana nilai-nilai memandu perilaku), dan identitas merek (apa yang dikatakan perusahaan tentang dirinya sendiri).
IFG, sebagai salah satu lembaga keuangan non-bank terbesar di Asia Tenggara, membutuhkan insan-insan yang berperilaku sesuai dengan core values perusahaan untuk mewujudkan aspirasi menjadi mitra keuangan yang paling bernilai dan disegani. Namun, ditegaskan Bapak Mora mengutip kerangka Edgar Schein tentang budaya organisasi, corporate culture tidak bisa dibangun hanya melalui slogan atau poster di dinding kantor. Budaya harus menyentuh tiga level: artifact (simbol, ruang, teknologi, sistem yang terlihat), espoused values (nilai dan visi yang dinyatakan), hingga underlying assumption, hal yang paling mendasar dalam cara karyawan bersikap, bertindak, dan berinteraksi.
“Core values diharapkan menjadi bagian yang menyentuh alam bawah sadar serta membentuk meaning purpose karyawan,” jelas Bapak Mora. “Corporate culture dapat terbentuk dengan baik melalui penyelarasan antara personal values dengan corporate values.”
Penyelarasan ini, ditegaskannya, tidak bisa dicapai lewat pelatihan konvensional di ruang seminar. Ia membutuhkan pengalaman langsung yang menyentuh sisi personal setiap individu, dan di sinilah program berbasis destinasi menemukan relevansinya.
Kindness to Progress: Dari Nilai Menuju Pengalaman
IFG menerjemahkan kebutuhan ini melalui program bernama Kindness to Progress, sebuah Social Project Movement yang menerjemahkan nilai-nilai perusahaan (Amanah, Adaptif, Loyal, dan Kolaboratif) menjadi pengalaman nyata di lapangan.
“Keselarasan antara personal values dengan corporate values menghasilkan semangat memberikan yang terbaik, sense of belonging karyawan, resilience dan keinginan untuk membangun perubahan, serta kebermanfaatan insan BUMN kepada masyarakat,” jelas Bapak Mora. Internalisasi ini dibangun dengan memberikan kesempatan karyawan untuk merasakan langsung pembelajaran bersama masyarakat, bukan sekadar mendengarkan ceramah tentang nilai-nilai tersebut.
Program ini dijalankan melalui tiga tahapan yang terstruktur. Tahapan Pre-Activity mencakup seleksi kandidat, workshop design thinking, dan penciptaan proyek sosial. Living Experience Values adalah tahap implementasi proyek sosial secara langsung di lapangan, dilengkapi dengan refleksi harian. Tahapan Post-Activity mencakup monitoring proyek, kegiatan lanjutan bernama Kampung IFG, hingga berbagi kisah dampak yang telah dihasilkan.
Program 2025 dijalankan di Desa Ngabab, Kabupaten Magelang, Jawa Timur, melibatkan seluruh entitas perusahaan di bawah IFG, dan berkontribusi pada agenda nasional Asta Cita, khususnya penguatan pembangunan SDM serta pemerataan ekonomi dari desa dan dari bawah.
Dari Wawancara Stakeholder Menuju Eksekusi Nyata
Sebelum turun ke lapangan, peserta program menjalani workshop design thinking yang terstruktur: wawancara dengan stakeholder desa yang dilakukan secara daring, menemukan akar permasalahan yang dihadapi masyarakat setempat, membuat ide dan gagasan proyek sosial, hingga merencanakan eksekusinya secara matang.
Hasil dari proses ini melahirkan empat kelompok kerja dengan fokus yang berbeda-beda, masing-masing menjawab isu spesifik yang ditemukan di lapangan.
Kelompok Mekar di Ngabab menangani isu stunting yang masih tinggi di desa tersebut, melalui workshop gizi seimbang, lomba kreasi mainan edukatif dari barang bekas, hingga pengadaan ruang membaca untuk ibu dan anak di posyandu setempat.
Kelompok Gema Ngabab, singkatan dari Gerakan Meningkatkan Agrikultur, Branding, dan Bisnis Ngabab, menjawab masalah petani yang sering mengalami kelebihan panen tanpa pemanfaatan optimal, serta UMKM lokal yang kesulitan dalam kemasan produk dan pemasaran. Program ini melatih 15 kelompok tani dan pemilik UMKM dalam praktik pengemasan modern.
Kelompok Bangkit, atau Batik Ngabab Kreatif dan Inovatif, membantu pengrajin batik lokal memahami proses produksi secara end-to-end dan meningkatkan variasi warna serta desain agar lebih menarik di pasar.
Kelompok Berlian menangani isu maraknya balita yang terpapar dunia digital tanpa pengawasan optimal, melalui workshop bersama psikolog, pembagian buku panduan parenting, dan pembuatan pojok sensori di posyandu setempat.
Dampak yang Bisa Diukur, Bukan Sekadar Diklaim
Yang membuat presentasi Bapak Mora berbeda dari kebanyakan paparan corporate social responsibility adalah penekanannya pada data. Program ini menjangkau satu pedukuhan, tiga RW, dan empat komunitas, dengan lebih dari 9.000 penerima manfaat tidak langsung dan lebih dari 80 penerima manfaat langsung, tersebar di keempat kelompok kerja dengan jumlah penerima manfaat yang terus bertambah dari kelompok pertama hingga keempat.
Dampak terhadap human capital diukur melalui peningkatan pengetahuan parenting anak usia dini, pemenuhan gizi seimbang, hingga keterampilan produksi batik dan pengolahan hasil panen. Dampak terhadap physical capital diukur melalui pembangunan pojok sensori dan area bermain serta membaca untuk ibu dan anak. Dampak terhadap financial capital diukur melalui pembaruan kemasan produk UMKM hasil panen lokal.
Namun bagian paling menarik dari presentasi ini adalah pengukuran dampak terhadap peserta program sendiri, bukan hanya masyarakat yang menerima manfaat. Skor karakter AKHLAK (Amanah, Harmonis, Adaptif, Kolaboratif) peserta diukur sebelum dan sesudah program, baik dari sudut pandang diri sendiri maupun rekan kerja mereka. Seluruh aspek nilai mengalami peningkatan, dengan Adaptif menjadi aspek yang paling meningkat, sebesar 0,22 poin dari sudut pandang diri sendiri dan 0,10 poin dari sudut pandang rekan kerja.
“Peningkatan dari self-assessment lebih besar dibandingkan dari others point of view karena biasanya individu lebih cepat menyadari perubahan internal,” jelas Bapak Mora. “Dengan skor rata-rata mendekati 5, dapat disimpulkan bahwa nilai AKHLAK sudah terasa kuat pada peserta, baik dari sudut pandang individu maupun rekan kelompoknya.”
Pengukuran perilaku prososial peserta menunjukkan hasil yang sama konsistennya. Seluruh tujuh indikator yang diukur, dari kesediaan menolong orang lain, kesediaan mengikuti kegiatan sukarela, empati terhadap sesama, kesegeraan membantu yang membutuhkan, hingga kedekatan dan penjagaan terhadap orang yang membutuhkan, menunjukkan peningkatan setelah program berjalan.
“Dalam proses rekrutmen, peserta yang dipilih adalah individu yang memiliki jiwa volunteering dan diduga memiliki prosocial behaviour yang tinggi. Peningkatan dari kedua point of view ini menandakan bahwa peserta merasakan dampak dari program Kindness to Progress kepada perilaku prososial mereka,” tegas Bapak Mora, sekaligus menunjukkan validasi eksternal bahwa dampak program ini benar-benar terlihat oleh lingkungan sekitar peserta, bukan hanya klaim subjektif dari diri sendiri.
Program Berbasis Destinasi sebagai Strategi, Bukan Seremoni
“Program berbasis destinasi seperti ini bukan sekadar kegiatan sosial seremonial, tapi strategi pengembangan SDM yang hasilnya bisa dipertanggungjawabkan secara data,” tegas Bapak Mora menutup paparannya.
Kalimat ini menjadi salah satu poin paling penting yang diperbincangkan sepanjang IELC 2026. Presentasi IFG membuktikan bahwa argumen tentang manfaat program berbasis destinasi dan Experiential Learning tidak perlu berhenti pada testimoni atau kesan subjektif, ia bisa diukur secara ilmiah, dengan metodologi pre-test dan post-test yang jelas, serta hasil yang bisa dipertanggungjawabkan kepada manajemen dan pemegang saham perusahaan.
Bagi korporasi lain yang mempertimbangkan untuk mengadopsi program serupa, presentasi ini menjadi bukti konkret bahwa investasi dalam program berbasis destinasi bukan sekadar biaya CSR, melainkan strategi pengembangan human capital yang terukur, dan dapat direplikasi di destinasi-destinasi lain di seluruh Indonesia.
Materi Plenary Kepala Divisi Pembelajaran dan Budaya Perusahaan Indonesia Financial Group (IFG) : https://drive.google.com/file/d/1jLbMMXygyEJICYJ_G3NaK_uuok68NnLX/view?usp=drive_link
Artikel ini adalah bagian keenam dari rangkaian liputan mendalam Indonesia Experiential Learning Conference (IELC) 2026.