Setelah sambutan Menteri Pariwisata menegaskan arah kebijakan besar, giliran Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI, Dr. Rima Agristina, S.H., S.E., M.M., membawa forum Indonesia Experiential Learning Conference (IELC) 2026 ke tempat yang tidak banyak diduga: bahwa pariwisata Indonesia bukan sekadar urusan ekonomi atau kunjungan, melainkan urusan peradaban.
Sesi keynote kedua ini memberi warna yang berbeda dari sesi lainnya. Alih-alih berbicara soal kebijakan atau strategi bisnis, Dr. Rima mengajak seluruh peserta merenungkan pertanyaan yang lebih dalam: apa sesungguhnya nilai yang ingin kita wariskan lewat setiap perjalanan wisata?
Dari Apa yang Dilihat, Menuju Apa yang Dialami
“Indonesia bukan sekadar tempat untuk dilihat. Indonesia adalah pengalaman untuk dirasakan, cerita untuk dikenang, dan nilai untuk dihormati.” Kalimat ini menjadi pembuka yang menetapkan nada seluruh paparan Dr. Rima.
Beliau menggambarkan perubahan paradigma pariwisata secara sederhana namun tajam: dari destination-based menuju experience-based. Dalam pendekatan lama, wisatawan datang untuk melihat, pantai, gunung, sawah, museum, kota tua, panggung budaya. Objek-objek ini bersifat pasif, sekadar dipandang dan difoto.
Dalam pendekatan baru, wisatawan datang untuk mengalami, cerita lokal, kuliner tradisional, pakaian adat, batik, tarian, musik, permainan tradisional, dongeng nusantara, hingga cendera mata UMKM. Kuncinya sederhana namun mendalam: mengubah kunjungan menjadi perjumpaan, dan mengubah pemandangan menjadi makna.
Pancasila sebagai Kompas Pariwisata
Bagian paling khas dari paparan Dr. Rima adalah bagaimana beliau menggunakan lima sila Pancasila sebagai kerangka konkret untuk merancang pariwisata yang bermakna, bukan sekadar slogan kebangsaan, tapi panduan operasional yang bisa langsung diterapkan di lapangan.
Sila pertama, Ketuhanan, diterjemahkan sebagai penghormatan pada ruang sakral, adat, dan spiritualitas lokal. Setiap destinasi yang memiliki dimensi religius atau spiritual harus dikelola dengan kepekaan terhadap nilai-nilai tersebut, bukan dieksploitasi sebagai sekadar objek foto.
Sila kedua, Kemanusiaan, berarti memuliakan masyarakat lokal sebagai subjek utama, bukan objek pertunjukan. Masyarakat di sekitar destinasi bukan pelengkap yang dipamerkan kepada wisatawan, melainkan pelaku utama yang harus dihormati martabatnya.
Sila ketiga, Persatuan, hadir dalam bentuk merajut Nusantara melalui cerita lintas daerah, bagaimana satu perjalanan wisata bisa menjadi jembatan yang menghubungkan pemahaman antara satu daerah dengan daerah lain di Indonesia yang begitu luas dan beragam.
Sila keempat, Kerakyatan, diwujudkan melalui musyawarah dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan destinasi. Keputusan tentang bagaimana sebuah destinasi dikembangkan tidak boleh dilakukan sepihak, melainkan melibatkan suara masyarakat setempat.
Sila kelima, Keadilan Sosial, memastikan manfaat ekonomi dari pariwisata benar-benar sampai ke rakyat, UMKM lokal, dan generasi muda, bukan hanya dinikmati oleh pemodal besar dari luar.
“Pariwisata berbasis pengalaman yang berjiwa Pancasila adalah pariwisata yang memuliakan manusia, menjaga budaya, merawat alam, dan menyejahterakan rakyat,” tegas Dr. Rima.
TMII Sebagai Etalase, Pentahelix Sebagai Mesin
Untuk mewujudkan visi ini secara konkret, Dr. Rima memaparkan bagaimana Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dapat direvitalisasi fungsinya sebagai jendela promosi nasional, miniatur Indonesia yang menjadi ruang edukasi keluarga, panggung budaya daerah, etalase UMKM, dan gerbang promosi menuju destinasi aslinya.
Beliau membayangkan arsitektur pertunjukan reguler di TMII yang terjadwal sepanjang hari: kelas budaya di pagi hari (membatik, menenun, memasak, memainkan alat musik tradisional), museum yang hidup di siang hari (tur tematik, drama sejarah, storytelling digital), arena permainan dan olahraga tradisional di sore hari (egrang, gasing, silat, jemparingan), hingga panggung Nusantara di malam hari (tari, musik, lagu daerah, dongeng, fashion tematik).
Namun visi besar ini, diakui Dr. Rima, tidak bisa dijalankan oleh satu pihak saja. Beliau memperkenalkan konsep Pentahelix sebagai mesin eksekusi, kolaborasi lima elemen yang harus bergerak bersama: pemerintah (visi, regulasi, infrastruktur, kurasi nasional), akademisi (riset, SDM, standardisasi, foresight), industri (investasi, pelayanan, paket pengalaman, pasar), komunitas (pemilik cerita, penjaga tradisi, tuan rumah), dan media (narasi, promosi etis, kreator digital).
Bahkan cendera mata pun tidak dilihat sebagai sekadar oleh-oleh, melainkan sebagai pemberdayaan UMKM, ingatan yang dibawa pulang wisatawan sekaligus mesin ekonomi rakyat, yang harus dirancang melalui kurasi produk autentik daerah, desain premium tanpa kehilangan identitas, dan kanal pasar yang jelas.
Etika Sebagai Batas yang Tidak Boleh Dilanggar
Salah satu bagian paling penting dari paparan Dr. Rima adalah penegasan tentang etika dan guardrails, batasan yang harus dijaga agar pariwisata berbasis pengalaman tidak berubah menjadi eksploitasi.
Beliau menegaskan enam prinsip yang tidak boleh dilanggar: tidak mengeksploitasi budaya (kurasi harus berbasis persetujuan, konteks, dan martabat lokal), tidak meminggirkan warga (masyarakat sebagai tuan rumah, bukan penonton di rumah sendiri), tidak merusak alam (ada batas daya dukung dan desain pengalaman berdampak rendah), tidak menyeragamkan Indonesia (keunikan setiap daerah harus tampil dengan suara dan estetikanya sendiri), tidak menjadikan budaya sebagai gimmick (setiap atraksi perlu narasi, makna, dan edukasi), dan tidak meninggalkan UMKM (cendera mata dan layanan lokal harus menjadi bagian inti rantai nilai, bukan pelengkap).
Sesi ini ditutup dengan pesan yang menjadi salah satu kutipan paling dikenang dari IELC 2026:
“Indonesia bukan sekadar destinasi indah; Indonesia adalah pengalaman peradaban.”
Pesan Dr. Rima menjadi pelengkap penting bagi visi besar yang dipaparkan Menteri Pariwisata sebelumnya, bahwa transformasi pariwisata Indonesia bukan hanya soal angka ekonomi dan destinasi prioritas, tetapi juga soal menjaga jiwa dan nilai bangsa dalam setiap pengalaman yang dirancang.
Materi Keynote Speech Wakil Kepala BPIP : https://drive.google.com/file/d/11ckgayqPJdzyqAiLhGWb7HOMSB-RXIMb/view?usp=drive_link
Artikel ini adalah bagian kedua dari rangkaian liputan mendalam Indonesia Experiential Learning Conference (IELC) 2026.